SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU FALAK
Oleh : Dr. Alimuddin, M.Ag dan Dr. Ir. Nurdin Mappa, M.M.
Dalam melihat perkembangan ilmu Falak, diperiodesasikan menjadi limu Falak sebelum Islam, ilmu Falak dalam peradaban Islam, ilmu Falak dalam peradaban Eropa dan ilmu Falak di Indonesia.
Ilmu Falak, merupakan ilmu yang sudah tua dikenal oleh manusia. Bangsa-bangsa Mesir,Mesopotania, Babilonia, Tiongkok,sejak abad ke-28 Sebelum Masehi telah mengenal dan mempelajarinya. Mereka mempelajari ilmu falak pada mulanya bertujuan untnk menghasilkan hitungan waktu, yang akan digunakan sebagai saat penyembahan kepada berhala-berhala yang mereka Tuhankan. Misalnya di Mesir, berhala-berhala yang mereka Tuhankan itu, ada yang bernma Osiris, Isis,Anom,dan sebaginya. Di Babilonia dan di Mesopotania, ada yang bernama Astaroth dan Bel. Karena mereka yang Tuhankan itu banyak jumlahnya, maka mereka memerlukan pembagian waktu. Dan dengan adanya keharusan pembagian waktu itu, mereka lalu mempelajari ilmu falak.
Menurut suatu riwayat, pembagian sepekan ( seminggu ) atau tujuh hari, adanya sejak lebih dari 5.000 tahun yang lalu. Kemudian ,
hari-hari yang tujuh itu, untuk tidak mengelirukan, lalu diberinyalah nama-nama
benda langit yang meeka telah kenal,
yakni :
1. Matahari untuk hari A h a d
2. B u l a n untuk hari S e n I n
3. M a s r untuk hari Selasa
4. Mercurius untuk hari R a b u
5. Yupiter untuk hari K a m i s
6. V e n u s untuk hari jum’at dan
7. Saturnus untuk hari S a b t u
Kemudian sekitar abad ke - 12 Sebelum Masehi, di Negeri Tiongkok, ilmu falak telah banyak mengalami kemajuan- kemajuan. Meeka telah mampu menghitung kapan akan terjadi gerhana, serta menghitung peredaran bintang -bintang.
Di Negeri Yunani yang sementara berada di zaman keemasannya ilmu pengetahuan, ilmu falak telah mendapat kedudukan yang sangat penting dan luas.
Nama-nama ahli ilmu Falak yang terkenal sebelum Islam antara lain :
1. Aristoteles ( 384 – 322 SM )
Aristoteles berpendapat bahwa pusat jagat raya adalah bumi.sedangkan bumi dalam keadaan tenang , tidak bergerak, dan tidak berputar. Semua gerak benda-benda angkasa mengitari bumi. Lintasan masing-masing benda angkasa berbentuk lingkaran. Sedangkan peristiwa gerhana misalnya tidak lagi dipandang sebagai adanya raksasa menelan bulan, melainkan merupakan peristiwa alam.
Pandangan manusia terhadap jagat raya mulai saat itu umumnya mengikuti pandangan Aristoteles , yaitu Geosentris bumi sebagai pusat peredaran benda-benda langit
2. Claudius Ptolomeus ( 140 M )
Pendapat yang dikemukakan oleh Ptolomeus sesuai dengan pandangan Aristoteles tentng kosmos, yaitu pandangan Geosentris, bumi dikitari oleh bulan, Merkurius, Venus, matahari, mars, Yupiter, saturnus . Benda-benda langit tersebut jaraknya dari bumi berturut-turut semakan jauh . Lintasan benda-benda langit tersebut berupa lingkaran di dalam bola langit. Sementara langit merupakan tempat bintang-bintang sejati, sehingga merekat berada pada dinding-dinding bola langit . Ptolomeus mempunyai buku besar tentang ilmu bintang – bintang yang berjudul “ Syntasis “ . Pandangan Ptolomeus yang geosentris ini berlaku sampai pada abad ke- 6 M tanpa ada perubahan (Muhyiddin, 2004 : 24)
1.2 Ilmu Falak Dalam Peradaban Islam
Dalam khasanah intelektual muslim klasik ilmu Falak merupakan salah satu ciri kemajuan peradaan Islam. Namun dalam perjalanannya ilmu Falak hanya mengkaji persoalan-persoalan ibadah, seperti arah kiblat, waktu shalat dan awal bulan Qamariah fase Islam ditandai dengan proses penterjemahan karya – karya monumental dari bangsa Yunani yag sangat mempengaruhi perkembangan Falak di dunia Islam adalah The Sphere in Movement (Al-Kurrah al-Mutharrikah) karya Antolycus, Ascentions of the Signs (Matali’ al- Buruj ) karya Aratus , Introduction to Atronomy (Al-Madkhhal ila Ilmi al – Falak ) karya Hipparchus, dan Almagesti karya Ptolomeua. (Yahya Syami, 1097:125).
Pada saat itu kitab-kitab tersebut tidak hanya diterjemahkan tetapi ditindak lanjuti melalui penelitian-penelitian berkelanjutan dan akhirnya menghasilkan teori-teori baru . Dari sini muncul tokoh Falak dikalangan ummat Islam yang sangat berpengaruh, yaitu al-Khawarizmy dengan Magnum opusnya . Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wa al-Muqabalah, buku ini sangat mempengaruhi pemikiran cendekiawan-cendekiawan Eropa dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Robert Chister pada tahun 535 H/1140 M dengan judul Liber al-gebras et almucarabah dan pada tahun 1247 H /1831 M diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Frederict Rosen ( E.Van Doncel, 2002:494 ).
Selain Al-Khawarizmi tokoh-tokoh dari Kalangan Islam yang ikut membngun dan mengembangkan ilmu Falak adalah :
1. Abu Ma’syar al-Falaky (wafat 272 H/885 M ) karya-karyanya antara lain: Isbatul Ulum, dan Haiatul Falak ( A.Hasimy, 1995 )
2. Jabir Batany (wafat 318 H/931 M ) yang telah menetapkan letak bintang, Ia telah menciptakan alat teropong bintang yang ajaib kitabnya yang Terkenal : Kitabu Ma’rifati Mathli ‘ il buruj Baina arbail Falak ( A.Hasimy, 1995:298)
3. Abu Raihan al-Biruni ( 363 H – 440 H/973 M – 1048 M ) salah satu karyanya ialah al – Qanun al-Mas’udi ( sebuah ensiklopedi astronomi yang dipersembahkan kepada Sultan Mas’ud Mahmud yang ditulis pada tahun 421 H/1030 M selain ahli dalam ilmu Falak, ia juga menguasai berbagai bidang ilmu lainnya, seperti Filsafat , matematika, Geografi,dan fisika.
Menurut Prof. Ahmad Baequny , Al-Biruni adalah orang yang pertama menolak terori Ptolomeus dan menganggap teori Geosentris tidak masuk akal. (Ahmad Maiquni, 1096:9 )
4. Al-Fargani seorang ahli Falak yang berasal dari Farghana, Transsoxania. Sebuah kota yang terletak di tepi sungai Sardari Uzbekistan di barat. Semua ahli astronomi pada abad petengahan mengenalnya dengan sebutan Alfraganus . Nama lengkapnya adalah Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Katsir al-Fargani . Hampir semua referensi sepakat bahwa al-Fargani adalah tokoh yang terkemuka dan seorang ahli Falak yang hidup semasa Khalifah al-Ma’mun (813-833 M) sampai masa kematian al-Mutawakkil (847-881 M ) . Karya utamanya yang masih tetap bertahan dalam bahasa Arab masih tersimpan baik do Oxford, Paris,Kairo dan di perpustakaan Princeton University dengan judul yang berbeda-beda diantaranya adalah Jawamy ilm an-Nujum al-Harakat as-Samawiyya , Ushul ilm an-Nujum , Al-Madkhl ila’ Ilm Hayat al-Falak dan kitab al-Fushul ats-Tsalatsin, semuanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa latin Spacol oleh John Hispalensis dari Sevillae dan Gerard dari gremona pada tahun 899 H/1493 M. ( E.J Brills, 1993: 67 )
5. Nasiruddin al-Tusi ( Abu Ja;far Muhammad bin Muhammad bin Al- Hasan Nasiruddin at-Tusi, 598 H- 673 H /12-01 M-1274 M). Dalam bidang ini, ia merupakan tokoh yang sangat menonjol diantara ilmuan dan peneliti Muslim lainnya. Penelitiannya antara lain mengenai “lintasan, ukuran dan jarak planit Merkurius, terbit dan terbenam , ukuran dan jarak matahari dengan bulan, dan bintang-bintang “. Diantara karya tulisannya dalam bidang ini adalah Al-Mutawassil baina al-Handasah wa al-Hai’ah (kumpulan karya terjemahan dari Yunani tentang geometri dan astronomi ) , Al-Tadzkirah fi ilm al-Hari’ah (sebuah krya hasil penyelidikan dalm bidang astronomi ) dan Zubdah al-Hai’ah ( intisari astromoni )
6. Muhammad Turghay Ulugbbek (797 -853 H/1394-1449 M) ia dikenal sebagai ahli Falak dan yang membangun ovservatorium di Samarkan pada tahun 823 H/1420 M dan menyusun Zij Sulthani. Karya-karya momumental tersebut sebagian besar masih bernuansa manuskrip dan kini tersimpan di Ma’had Makhlutat al-Araby , Kaero, Mesir . Patut diketahui bahwa semua karya tersebut di atas masih bergaya masih bernuansa geosentris . Artinya karya-karya tersebut masih banyak dipengaruhi oleh Ptolmeus, yang menempatkan bumi sebagai pusat peredaran planet-planet dan matahari. Assumsi ini didasarkan pada kenyataan sejarah bahwa teori Heliosentris yang dibangun oleh Copernikus baru muncul pada abad XVI M meskipun pada uraian sebelumnya disebutkan al-Biruni telah mengkritik teori geosentris. (Susikman,200:09 )
1.1Ilmu Falak Dalam Peradaban Eropa
Pada saat negara-negara Islam mencapai masa kejayaannya , bangsa Eropa masih berada dalam ketertinggalan. Sungguh sayang jaman keemasan Islam tidak berlangsung terlalu lama . Ketika bangsa Eropah mulai tertarik pada ilmu pengetahuan seperti yang telah dipelajari oleh ummat Islam yang telah demikian tinggi serta pertemuan-pertemun diperbagai ilmu pengetahun, pendapat-pendapat ilmuan Muslim mulai ditentang oleh aliran muslim kolot .
Munculnya tantangan dari kaum muslimin kolot terutama disebabkan oleh perkembangan Filsafat yang dianggap oleh mereka telah menjerumus ke arah kemurtadan. Dari sini, mereka yang fanatik telah mengambil kesimpulan bersifat menyeluruh , bahwa orang-orang yang mendalami pengetahuan umum, termasuk ilmu Falak apalagi Astrologi semuanya telah menyalahi ajaran Islam.
Disisi lain serangan dari bangsa Eropa mulai dilancarkan kepada negara-negara Islam, sebagai akibatnya tidak sedikit perpustakaan yang penuh dengan buku-buku ilmu pengetahuan menjadi puing-puing berserakan dan isinyapun terbakar. Akhirnya bangsa yang semula jaya ini kini tenggelam kembali ke dalam jurang keterbelakangan.
Sementara ini bangsa Eropa mulai maju ke arah kebudayaan yang terus meninggi. Mereka mempelajari semua pengetahuan-pengetahuan bangsa Arab (muslim) yang telah runtuh dari kejayaannya. Mereka meniru cara-cara hidup bangsa Arab. Mereka dirikan sekolah-sekolah dan perguruan Tinggi , serta perpustakaan-perputakaan dan berbagai sarana pendidikan untuk mencerdaskan bangsanya.
Dari pengalaman sejarah yang telah dicapai oleh bangsa Arab mereka mengambil manfaatnya bahwa hanya dengan ilmu dan pendidikanlah bangsanya akan tampil sebagai bangsa yang jaya dan memimpin dunia . Untuk mencapai tujuan ini , antara lain yang dilakukan adalah menterjemahkan buku-buku ilmu Falak ke dalam bahasa Eropah misalnya buku “ al-Mukhtashar fi hisabil jabr wal Muqabalah “karya al-khawarizmi diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Gerard dari Gremona. Buku hasil terjemahan ini dengan judul barunya “ The Mathematies of Integration and Eguations” dipakai sebagai buku pegangan utama dalam ilmu pasti diperguruan-perguuan tinggi Eropah hingga abad 16 M. Demikian pula buku “Suratul Ardl” karya al-Khawarizmi diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Aderald dari Bath.
Dua buku “al-Mudkhalul Kabir” karya Abu Ma’syar diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh John dari Siville dan Gerard dari Gemona.
Buku “Tabril al-Maghesti “ karya al-Battani diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Plato dari Tipoli ( wafat 1150 M ) , dan dikutif oleh Nicolas Copernicus dalam karangannya De Revolutionibusorbium Caelestium. Buku “Thablil al-Maghesti ,ini diterjemahkan pula ke dalam bahasa Inggris oleh Alphonso X . Selain itu, tabel bintang-bintang karya az-Zarqali diterjemahkan oleh Ramond dan Marsceille (Muyiddin, 2004 ).
Diantara ilmuan Eropa dalam bidang astronomi pada dekade ini adalah :
1. Nicolas Copernicus ( 1473 – 11541 )
Nicolas Copernicus orang Jerman yang mengemukakan suatu teorinya yang disebut “Heliosentri” menurut teori ini bahwa:
1) Bukanlah bumi yng menjadi pusat dari peredaran benda-benda langit , tetapi mataharilah yang menjadi titik pusatnya, yang diedari oleh :Mercurius, Venus, Bumi, Bulan, Mars, Yupiter, Saturnus kemudian beberapa bintang tetap sejenis matahari.
2) Falak-falak dari benda langit ysng mengetari matahari , bentuknya lingkaran yang bundar.
Teori Copernicus ini telah mneggoncangkan dunia pada zamannya. Sebab suatu penemuan yang sama sekali bertolak belakang dengan teori-teori sebelumnya, yang telah diyakini oang sepnjang 14 abad lamanya.
Pihak-pihak yang jelas menentang teori ini, adalah dari golongan para ahli ilmu pengetahuan tokoh-tokoh agama Nasrani.
Teori Heliosentris ini kemudian didukung dan diikuti ahli-ahli Falak lainnya antara lain: : Giordano Bruno (lahir 1548 M) dan Galileo Gailei ( lahir 1564 M ).
Teori ini memang masih banyak mengandung kelemahan-kelemahan, tetapi satu hal yang tak dapat diingkari , bahwa sampai sekarang prinsip tentang pusat dari tatasurya kita ini khususnya, bukanlah bumi yang menjadi pusatnya, tetapi mataharilah.
Selain itu teori ini pula mengajarkan bahwa bumi ini bergerak mengitari matahari, suatu teori yang sampai sekarang tetap diakui sebenar-benarnya. (Syuhudi, 1999:5 )
2. Galileo Galilei ( 1564 – 1642 )
Setelah membaca buku karya Copernicus tentang gerak benda-benda Langit , kemudian dia menyusun teori kinematika tentang benda-benda langit yang sejalan dengn Copernicus . Karya Galilei tentang peredaran benda-benda laingit seperti itu, oleh gereja ketika itu dinyatakan terlarang untuk dibaca umum, karena bertentang dengan pandangan dan kepercayaan kaum gereja.
3. Johannes Kapler ( 1571-1630 M )
Kepler seorang kebangsaan Jerman dengan tidak kenal lelah selalu mengadakan penelitian benda-benda langit. Ia memperluas dan menyempurnakan ajaran Copernicus . Teori yang dikemukakan dilandasi matematika yang kuat. Ia berhasil menjadikan hukum universal tentang kinematika planet yang menjadi landasan dalam ilmu Astronomi. Tiga hukum itu adalah:
1. Lintasan planet menyerupai elips dengan matahari salah satu titik apinya.
2. Garis hubung planet-planet menyapu daerah yang sama luasnya dalam selang waktu yang sama panjangnya.
3. Pangkat dua kala edar planet sebanding dengan pangkat tiga jarak planet ke matahari ( Muhyiddin, 2004:30 )
4. Richo Brahe (1546 – 1601 )
Seorang ahli observasi yang sampai sekarang masih dipergunakan hasil observasinya.
5. GiordenoBruno, seorang ahli astronomi kelahiran Italia. (Syuhudi, 1999, 5).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar