Ilmu Pengetahuan Menurut Islam
Oleh: Nurdin Mappa
Ilmu pengetahuan dalam Islam memiliki karakteristik khas yang berbeda secara fundamental dengan ilmu-ilmu yang dikembangkan di Barat, baik landasan, sumber, sarana, dan metodologinya. Dalam Islam, ilmu pengetahuan memiliki landasan yang kokoh melalui al-Qur’ān dan Sunnah; bersumber dari alam fisik dan alam metafisik; diperoleh melalui indra, akal, dan hati/intuitif. Cakupan ilmunya sangat luas, tidak hanya menyangkut persoalan-persoalan duniawi, namun juga terkait dengan permasalahan ukhrāwi ( Kosim, 2008).
Selanjutnya Kosim, (2008) menjelaskan bahwa di antara problema besar yang dihadapi umat Islam di era modern adalah redupnya etos keilmuan di kalangan umat Islam dan munculnya dunia Barat sebagai penguasa ilmu pengetahuan dan teknologi. Problema pertama, rendahnya etos keilmuan, menjadikan umat Islam “terisolir” dari dunia keilmuan global. Kondisi ini sangat ironis karena di era klasik, selama kurang lebih enam abad, umat Islam berada pada garda depan dan menjadi kiblat dunia dalam pengembangan ilmu. Sementara itu, problema kedua, munculnya dunia Barat sebagai penguasa ilmu pengetahuan dan teknologi, membawa persoalan serius karena pengembangan ilmu dan teknologi di Barat bercorak sekuler sehingga memunculkan ekses negatif seperti; sekularisme, materialisme, hedonisme, individualisme, konsumerisme, rusaknya tatanan keluarga, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan obat terlarang.
Penomena ini seharusnya membuat ummat Islam sadar untuk segera menata diri guna menghidupkan kembali etos keilmuan sebagaimana pernah dialami oleh ummat terdahulu pada masa kalsik dimana kaum muslimin pernah menjadi kiblat dalam keilmuan. Segala atribut kebodohan yang sering diatributkan kepada ummat Islam harus disingkirkan dengan memunculkan kembali budaya keilmuan, jika ini dilakukan tidak menutup kemungkinan ummat Islam akan kembali berjaya seperti masa-masa klasik, di saat dunia barat masih diselimuti dengan keterbelakangan dalam bidang keilmuan.
Konsep Ilmu Pengetahuan Dalam Islam
Secara etimologi, ilmu berasal dari bahasa Arab ‘ilm (‘alima-ya’lamu-‘ilm), yang berarti pengetahuan (al-ma’rifah)(Munawwir, 1984) kemudian berkembang menjadi pengetahuan tentang hakikat sesuatu yang dipahami secara mendalam (Ma’luf, 1986). Dari asal kata ‘ilm ini selanjutnya diindonesiakan menjadi ‘ilmu’ atau ‘ilmu pengetahuan.’ Dalam perspektif Islam, ilmu merupakan pengetahuan mendalam hasil usaha yang sungguh-sungguh (ijtihad) dari para ilmuwan muslim (‘ulama/mujtahid) atas persoalan - persoalan duniawi dan ukhrawi dengan bersumber kepada wahyu Allah (Azizy, 2003).
Fungsi dari Al-Qur’ān dan al-Hadīts sebagai petunjuk (hudan) bagi umat manusia, termasuk dalam hal ini adalah petunjuk tentang ilmu dan aktivitas ilmiah. Al-Qur’ān memberikan perhatian yang sangat istimewa terhadap aktivitas ilmiah. Terbukti, ayat yang pertama kali turun adalah perintah untuk membaca, sebagaimana disampaikan oleh Allah Subhana Wataalah dalam Alquraan surah Al-Alaq (96):1
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan (Qs. Al-Alaq:1)
Membaca, dalam artinya yang luas, merupakan aktivitas utama dalam kegiatan ilmiah. Kata ilmu bukan hanya sekedar asalnya dari bahasa Arab tetapi Allah telah mencantumkan di dalam Alquran yang suci. Kata ilmu banyak disebutkan dalam kitab suci Alquran paling tidak disebut sebanyak 105 kali dalam al-Qur’ān. Sedangkan kata jadiannya disebut sebanyak 744 kali. Kata jadian yang dimaksud adalah; ‘alima (35 kali), ya’lamu (215 kali), i’lam (31 kali), yu’lamu (1 kali), ‘alīm (18 kali), ma’lūm (13 kali), ‘ālamīn (73 kali) ‘alam (3 kali), ‘a’lam (49 kali), ‘alīm atau ‘ulamā’ (163 kali), ‘allām (4 kali), ‘allama (12 kali), yu’limu (16 kali), ‘ulima (3 kali), mu’allām (1 kali), dan ta’allama (2 kali) (Rahardjo, 1990).
Disamping kata tentang ilmu, dalam Alquran juga banyak ayat yang menerangkan tentang aktivitas ilmiah dan pengembangan ilmu pengetahuan. Keterangan ini ada yang diterangkan secara langsung ada juga yang tidak diterangkan secara langsung, seperti perintah untuk berpikir, merenung, menalar, dan semacamnya. Misalnya, perkataan ‘aql (akal) dalam alQur’an disebut sebanyak 49 kali, sekali dalam bentuk kata kerja lampau, dan 48 kali dalam bentuk kata kerja sekarang. Salah satunya adalah sindiran Allah Subhana wataalah kepada orang yang tidak menggunakan akalnya untuk berpikir, hal ini disebutkan oleh Allah dalam Alquran Surah Al-Anfal:22
Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah; orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak menggunakan akalnya (Qs. Al-Anfal:22)
Begitupula kata fikr (pikiran) disebut sebanyak 18 kali dalam alQur’ān, sekali dalam bentuk kata kerja lampau dan 17 kali dalam bentuk kata kerja sekarang. Salah satu ayat yang menyinggung tentang aktivitas berpikir adalah Alquran surah Ali-Imran:191
Salah satunya adalah; “…mereka yang selalu mengingat Allah pada saat berdiri, duduk maupun berbaring, serta memikirkan kejadian langit dan bumi”(Qs. Ali-Imran:191)
Begitupula kedudukan seorang ilmuan yang beriman yang ditempatkan oleh Allah pada posisi yang mulia sebagaimana disampaikan oleh Allah Subhana Wataalah dalam Alquran Surah Al-Mujadilah:11
…. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan (Qs. Al-Mujadilah:11).
Aktivitas ilmiah, termasuk keutamaan penuntut ilmu atau ilmuan dan etika dalam menuntut ilmu bukan hanya banyak disebutkan dalam Alquran akan tetapi hal yang senada juga banyak ditemukan di dalam Hadits, di antaranya adalah kewajiban menuntut ilmu, sebagaimana disampaikan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, yang disahikan oleh Syaikh Al-Bani, sebagai berikut:
“Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap muslim” (HR. Ibn Majah)
Begitu pula kepada orang yang meninggalkan rumahnya dengan maksudnya untuk menuntut ilmu, mereka mendapatkan keistimewaan dengan berupa pengawalan dari Malaikat hal disampaikan dalam hadits berikut:
Artinya: “Barang siapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah memudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya para Malaikat membentangkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha atas apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya orang yang berilmu benar-benar dimintakan ampun oleh penghuni langit dan bumi, bahkan oleh ikan-ikan yang berada di dalam air.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3641), Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), Ahmad (V/196), Ad-Darimi (I/98), Ibnu Hibban (88 – Al-Ihsan dan 80 – Al-Mawarid), Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (I/275-276, no. 129), Ibnu ‘Abdil Barr dalam Jami’ Bayanil ‘Ilmi (I/174 ,no. 173), dan Ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (I/429), dari Abud Darda’ radhiyallahu’anhu
Seorang penuntut ilmu yang meninggalkan rumahnya dengan maksud menuntut ilmu Allah akan memberikan proteksi dengan mengirimkan Malaikat-Nya untuk memberi perlindungan dengan kedua sayapnya sehingga mereka akan selalu tenang dalam perlindungan Allah Subhana Wataalah. Bahkan Malaikat memberi hormat kepada mereka dengan cara meletakkan sayapnya kepada sang penuntut ilmu sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:
وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ
“Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridha pada penuntut ilmu.” (HR. Abu Daud, no. 3641; Ibnu Majah, no. 223. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Bukan hanya dilindungi oleh Allah melalui Malaikat-Nya bahkan mereka yang keluar meninggalkan rumahnya digolongkan orang yang berada dalam jalan Allah Subhana Wataalah sampai ia kembali ke rumah mereka masing-masing, sebagaimana disampaikan dalam hadits berikut:
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ
"Barang siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali."(HR. Muslim)
Demikian pentingnya dalam menuntut ilmu sehingga seorang penuntut ilmu digolongkan orang yang berada di jalan Allah sampai ia tiba kembali ke rumahnya, sehingga jika seseorang meninggal dalam perjalanan menuntut ilmu maka pahalanya sama dengan orang yang jihad di jalan Allah Subhana Wataalah, Allahu a’lam.
Beberapa penjelasan dalam al-Qur’ān dan al-Hadīts yang dipaparkan menjadi bukti bahwa bahwa paradigma ilmu dalam Islam adalah teosentris. Oleh karena itu dalam Islam hubungan antara ilmu dengan agama Islam sangat berkaitan erat sekali dan memperlihatkan relasi yang harmonis, ilmu tumbuh dan berkembang sejalan dengan ajaran Islam, ulama dan cendekiawan muslim hidup berdampingan saling menopang. Bahkan banyak ditemukan para ilmuwan dalam Islam sekaligus sebagai ulama. Misalnya, Ibn Rusyd di samping sebagai ahli hukum Islam pengarang kitab Bidayah alMujtahid, juga seorang ahli kedokteran penyusun kitab al-Kulliyat fi al-Thibb. Inilah yang membedakan dengan agama lain, khususnya agama Kristen di Barat, yang dalam sejarahnya memperlihatkan hubungan kelam antara ilmu dan agama. Hubungan yang tidak harmonis atau disharmonis nampak dengan memberikan hukuman yang berat kepada para ilmuan yang teori dan temuannya bertentangan dengan dogma gereja. Hal ini terbukti pada diri Nicolaus Copernicus yang dipenjara dan menemui ajalnya di dalam penjara pada tahun 1543 M, begitu pula yang dialami oleh Michael Servet yang mati dibakar tahun 1553 M, dan tidak kalah tragisnya Giordano Bruno dibunuh pada tahun 1600, serta Galileo Galilei yang meregang nyawa di penjara tahun 1642 M. Hal inilah yang menunjukkan bahwa hubungan agama dan ilmu di Barat tidak harmonis, oleh karena itu para ilmuan meninggalkan agama dalam melakukan aktivitas ilmiah. Akibatnya, ilmu di Barat berkembang dengan paradigma antroposentris yaitu paradigma yang menempatkan manusia sebagai pusat segala pengalamannya dan manusialah yang menentukan segalanya, sehingga menggusur sama sekali paradigma teosentris yaitu paradigma yang menempatkan Tuhan sebagai pusat dan sumber segala kehidupan. Akibat yang ditimbulkan adalah perkembangan ilmu menjadi sekuler yaitu ilmu terpisah dengan agama sehingga menimbulkan problem teologi yang sangat serius. Banyak ilmuwan Barat yang merasa tidak perlu lagi menyinggung atau melibatkan Tuhan dalam argumentasi ilmiah mereka. Bagi mereka Tuhan telah berhenti menjadi apapun, termasuk menjadi pencipta dan pemelihara alam semesta (Kosim, 2008).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar