Masa Keemasan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam
Oleh: Nurdin Mappa
Perkembangan ilmu pengetahuan dalam
Islam dalam perspektif sejarah mengalami pasang surut. Ada masa dimana ilmu
pengetahuan mencapai puncak kejayaan, kemudian sejarah juga mencatat
kemunduran. Pada tulisan berikut penulis akan menyajikan phenomena pasan surut
perkembangan ilmu pengetahuan yang dikaitkan dengan factor-faktor yang
mempengaruhinya. Pada tulisan di bawah ini akan disajikan masa keemasan,
kemunduran dan masa kebangkitan pengetahuan dalam Islam.
Masa Keemasan
Menurut Harun Nasution ( 1975) ada tiga periode
sejarah politik dunia Islam yaitu;
periode klasik (650-1250 M), periode pertengahan (1250-1800 M), dan periode
modern (1800-sekarang). Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa dari ketiga
periode tersebut, yang dikenal sebagai masa keemasan Islam adalah periode klasik, yang salah satunya ditandai dengan semangat
keilmuan yang sangat tinggi, yang ditunjukkan dengan pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan di berbagai bidang kehidupan. Kecepatan perkembangan ilmu
pengetahuan di dunia Islam sangat tampak setelah masuknya gelombang Hellenisme
melalui gerakan penerjemahan ilmu-ilmu pengetahuan Yunani ke dalam bahasa
Arab. Khalifah yang mempelopori
akselerasi ilmu pengetahuan dalam Islam adalah
khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) yang kemudian mencapai puncaknya
pada masa khalifah al-Makmun (813-833 M). Beliau mengirim utusan ke kerajaan
Romawi di Eropa untuk membeli sejumlah manuscripts untuk kemudian diterjemahkan
ke dalam bahasa Arab (Harun Nasution, 1973).
Sejak saat itu para ulama mulai melakukan penelaan yang mendalam
terhadap pemikiran-pemikiran ilmuwan
Yunani seperti Pythagoras (530-495 SM),
Plato (425-347 SM), Aristoteles (388-322 SM), Aristarchos (310-230 SM),
Euclides (330-260 SM), Klaudios Ptolemaios (87-168 M), dan lain-lain (Poeradisastra, 1986).
Selanjutnya Poeradisastra (1986) menjelaskan bahwa
penelaan-penalaan yang mendalam yang dilakukan oleh para ulama terhadap
pemikiran-pemikiran ilmuan Yunani sehingga bermunculanlah di kalangan ummat
Islam para filosof dan ilmuan yang ahli pada berbagai disiplin ilmu. Di antara mereka yang dapat dijadikan
contoh adalah al-Razi (866-909 M), Ibn
Sina (wafat 926 M), Ibn Zuhr (1091- 1162 M), Ibn Rusyd (wafat 1198 M), dan
al-Zahrāwī (wafat 1013 M) dalam bidang kedokteran, sedangkan dalam bidang filsafat muncul; al-Kindi
(801-862 M), al-Farabi (870- 950 M), al-Ghazali (1058-1111 M), dan Ibn Rusyd
(wafat 1198 M). Begitu pula dalam bidang ilmu pasti dan ilmu pengetahuan alam
muncul; alKhawarizmi (780-850 M), al-Farghani (abad ke-9), an-Nairazi (wafat
922 M), Abu Kamil (abad ke-10), Ibrahim Sinan (wafat 946 M), alBiruni (973-1051
M), al-Khujandii (lahir 1000 M), al-Khayyani (1045- 1123 M), dan Nashirudin
al-Thusi (1200-1274 M).
Begitu pula ilmu
pengetahuan dalam bidang hukum Islam, juga
mengalami Perkembangan pesat yang
ditandai dengan lahirnya empat imam madzhab yaitu Abu Hanifah (wafat 767 M),
Anas ibn Malik (wafat 795 M), Muhammad ibn Idris al-Syafii (wafat 819 M), dan
Ahmad ibn Hambal (wafat 855 M). Dalam bidang Hadits, muncul sejumlah ulama
Hadits terkemuka seperti; Bukhari (wafat 870 M), Muslim (wafat 875 M), Ibn
Majah (wafat 886 M), Abu Dawud (wafat 886 M), al-Tirmidzi (wafat 892 M), dan
al-Nasa’i (wafat 916 M). Sedangkan dalam bidang teologi muncul ulama seperti;
Abu al-Hudzail al-Allaf, Ibrahim al-Nazzam, Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan Abu
Manshur al-Maturidi.
Penerjemahan
ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani oleh umat Islam tidak dilakukan secara
bebas akan tetapi bersifat selektif dan kreatif (Madjid, 1997). Adapun manuskrip yang diterjemahkan adalah
filsafat dan ilmu-ilmu yang memberikan kemaslahatan bagi umat seperti;
kedokteran, pertanian, astronomi, ilmu bumi, ilmu ukur, dan ilmu bangunan.
Sedangkan transkrip seperti sastra Yunani ditinggalkan karena banyak berbau
takhayul dan syirik, bahkan ilmu-ilmu terjemahan tersebut tidak diterima begitu
saja (taken for granted), melainkan
dikembangkan dan diislamkan, sebab pertumbuhan ilmu-ilmu Yunani Kuno bersifat
sekuler. Hal inilah yang menyebabkan perkembangan ilmu dalam Islam berbeda
dengan ilmu yang berkembang di Yunani.
Bahkan menurut pandangan Max I.
Dimont, ahli sejarah peradaban Yahudi dan Arab,
menyatakan bahwa peradaban Islam jauh meninggalkan peradaban Yunani. Ada
ilustrasi yang menarik yang disampaikan oleh Dimont, sebagaimana dikutip oleh Nurcholish Madjid,
beliau menyampaikan bahwa ”dalam hal ilmu pengetahuan, bangsa Arab (muslim)
jauh melesat meninggalkan bangsa Yunani.
Dimont mengandaikan peradaban Yunani dalam esensinya ibarat sebuah kebun subur yang penuh dengan
bunga-bunga indah namun tidak banyak berbuah. Peradaban Yunani itu adalah suatu
peradaban yang kaya dalam filsafat dan sastra, tetapi miskin dari teknik dan
teknologi. Bangsa Arab dan Yunani Islamid
(yang terpengaruh oleh peradaban Islam) telah mengukir sejarah karena mereka telah melakukan usaha mendobrak
jalan buntu ilmu pengetahuan Yunani
dengan merintis jalan ilmu pengetahuan baru dengan menemukan konsep nol,
tanda minus, bilangan-bilangan irasional, dan meletakkan dasar-dasar ilmu kimia
baru yaitu ide-ide yang meratakan jalan ke dunia ilmu pengetahuan modern
melalui pemikiran kaum intelektual Eropa pasca Renaisans (Madjid, 1997).
Ada beberapa
factor yang menyebabkan ilmu pengetahuan berkembang pesat pada masa klasik,
yaitu pertama etos keilmuan yang tinggi, hal ini karena Islam sangat memberi
ruang terhadap ilmuan dan aktivitas ilmiah, kedua Islam merupakan agama yang
rasional dan memberikan ruang yang besar terhadap akal (Nasution, 1996). Menurut Fadjar (1990) Semangat rasional tersebut semakin menemukan
momentumnya setelah umat Islam bersentuhan dengan filsafat Yunani klasik yang
juga rasional. Kemudian, melalui aliran teologi rasional Mu’tazilah, para
ilmuwan memiliki kebebasan yang luar biasa dalam mengekspresikan pikiran mereka
untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Ketiga, berkembangnya ilmu pengetahuan di
kalangan umat Islam klasik adalah sebagai dampak dari kewajiban umat Islam dalam
memahami alam raya ciptaan Allah. Dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa alam raya
diciptakan untuk kepentingan manusia. Untuk itu alam dibuat lebih rendah
(musakhkhar) dari manusia sehingga terbuka dipelajari, dikaji, dan diteliti
kandungannya. Keempat, di samping alasan di atas, perkembangan ilmu pengetahuan
di era klasik juga ditopang kebijakan politik para khalifah yang menyediakan
fasilitas dan sarana memadai bagi para ilmuwan untuk melakukan penelitian dan
pengembangan ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar